Tampilkan postingan dengan label BOYFRIEND. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BOYFRIEND. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2011

[FF] BEAUTIFUL CHRISTMAS

Tittle : BEAUTIFUL CHRISTMAS

Author : RIZKA ANIZA
Genre : Romance
Lenght : Oneshoot

Main cast :
- Jo Kwangmin
- Park Nichan


Suasana hening di gereja membuatku serius berdoa di malam natal ini. Semua umat kristiani sedang berdoa di gereja ini. Gereja itu dihiasi pohon-pohon natal, lampu-lampu, bintang bintang yang membuat suasana natal semakin terasa. Para biarawan berpakaian jubah putih berjalan menuju Gereja, di mana menurut tradisi Kristen Yesus Kristus dilahirkan.Udara yang dingin menembus kulitpun tak terasa karena kehangatan dapat dapat aku rasakan disini. Aku memejamkan mata sambil berdoa untuk natal tahun ini, yang aku harap natal besok adalah natal yang indah bagiku. Tampak disebelahku seorang anak laki-laki kecil seumuranku sedang serius berdoa. Syal merah yang dia pakai itu sedikit menutupi wajah imutnya. Aku terus menatapnya namun dia tak menyadarinya. Dia terus berdoa sambil memejamkan matanya. Dia adalah Jo Kwangmin, sahabat baikku sejak dulu. Kami selalu bersama kemanapun kami pergi. Dan setiap natal kami rayakan bersama. Aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Keluarganya dan keluargaku bisa dibilang cukup akrab. Pertemuan kami dimulai saat aku berusia 4 tahun. Waktu itu Kwangmin pindah dari Amerika dan tinggal di Seoul, rumahnya berada tepat di depan rumahku. Kami berdua bertetangga, sejak saat itu dia sering mengajakku bermain dan sering main ke rumahku. Sekarang usiaku 9 tahun tak terasa kami menjalin persahabatan selama 5 tahun. Selama kami menjalin persahabatan kami tak pernah bertengkar sekalipun. Dia selalu mengalah dengan sikap keras kepalaku ini. Dia juga bagaikan peri yang selalu menjagaku kapan saja. Kwangmin sering berkelahi dengan anak-anak nakal yang sering menggangguku. Terkadang tubuhnya pun sering terluka karena melindungiku. Aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertinya. Dia adalah sahabat terbaik yang Tuhan berikan kepadaku. Terimakasih Tuhan!

“Sudah puaskah kau memandangiku seperti itu?” ucapnya yang memergokiku yang sedari tadi memandanginya.

Aku terkaget. “Ahh.. Aniyo Kwangminie.” Wajahku memerah karena malu.

“Tidak usah berbohong, wajahmu saja sudah memerah.” Kwangmin mencubit pipiku.

“Ini karena udaranya dingin.” Kataku berbohong.

“Kau ini memang keras kepala! Huhh!! Ayo kita ke tempat itu!” ajaknya pada suatu tempat.

Kami segera keluar dari gereja untuk menuju ke tempat itu. Kami menyusuri jalan sambil bergandengan tangan. Suhu di sini sangat dingin sehingga membuatku agak kedinginan. Salju turun dengan lembut dari langit dan jatuh di tanganku yang tak memakai sarung tangan. Tangan hangatnya mampu menghangatkan tanganku yang dingin. Dia terus menggenggam tanganku erat. Tibalah kami di sebuah pohon natal yang besar yang dipenuhi pernak-pernik serta lampu bewarna-warni yang menghiasi pohon natal ini. Tempat ini sudah tidak asing bagiku, karena setiap malam natal aku dan Kwangmin selalu datang ke tempat ini. Kami selalu bertukar hadiah dan duduk menikmati suasana natal disini. Selama kami menjalin persahabatan kami selalu mengunjungi pohon natal ini. Tempat ini jarang sekali dikunjungi oleh orang-orang.

Aku dan Kwangmin duduk di bangku panjang berdua. Udara yang dingin terkadang membuatku bersin-bersin.
“Haaattttcchhhiii....!!!” Aku bersin sesekali.

“Mengapa kau tidak memakai syal? Suhu disini sangat dingin Channie.” Kwangmin melepaskan syal merahnya dan memakaikannya ke leherku.

“Tidak usah. Aku baik-baik saja. Pakai saja syalmu itu, nanti kau kedinginan.” Tolakku.

“Tidak apa-apa, aku ini anak laki-laki. Aku pasti kuat! Percaya lah.” Kwangmin tersenyum hangat.

“Baiklah kalau ini maumu.” Akupun mengangguk.

“Channie, aku ada sesuatu untukmu!” Anak laki-laki itu menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.

“Aku juga.” Akupun menyembunyikan tanganku seperti dia.

“Baikklah, dalam hitungan ketiga kita keluarkan bersama-sama.” Kwangmin tersenyum lembut.

“Ok!”

“Satuu.. duaa.. tiga..!!” kami mengeluarkan hadiah bersama-sama dari balik punggung kami.

“Ini untukmu.” Ucapku sambil memberikan sebuah kotak.

Kwangmin langsung membuka kotak itu dengan semangat. “Wahh yoyo! Jeongmal gomawo Channie, bagaimana kau tahu kalau aku sangat menginginkan yoyo bagus ini. Kau hebat!!” Kwangmin menggoyang-goyangkan bahuku dengan kedua tangan mungilnya.

“Tentu saja. Aku ini kan sahabatmu.” Aku menyunggingkan senyum termanisku.

“Nah ini adalah hadiah pemberianku untukmu.” Anak laki-laki itu memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru muda.
Aku segera mengambilnya dan membukanya secara perlahan. “Woww!! Kalung pasangan. Ini cantik sekali Kwangminnie.” Kuangkat kedua kalung yang berbentuk setengah hati itu. Itu adalah kalung pasangan yang masing-masing berbentuk setengah hati. Jika kedua kalung itu di satukan maka akan terbentuk sebuah hati yang indah.

“Aku harap kau bisa menjaga kalung ini Channie, satu kau yang pakai dan satunya lagi aku yang memakainya. Eottoke? Ini adalah tanda persahabatan kita.” Kwangmin mengambil satu dari kalung yang kupegang lalu memakainya di leherku.

“Baiklah, itu sudah pasti.” Akupun memakaikan kalung yang masih di tanganku dan memakaikannya ke lehernya.

“Kwangminnie, kalung ini bagus sekali. Ini adalah hadiah natal terindah yang pernah aku terima. Omona! Disini ada ukiran inisial nama kita.” Aku melihat bagian belakang mainan kalung itu yang terdapat inisial K&N yang berarti Kwangmin dan Nichan.

“Ya, eommaku yang memilihkannya, dia bilang kalung ini cocok dengan kita.” Kwangminpun memegang mainan kalung itu.

Aku dan Kwangminpun duduk berdua di bangku.
“Channie, lihat! Ada apa di keningmu?” Kwangmin menunjuk ke arah keningku dengan ekspresi polosnya.

“Mwo! Ada apa?” aku meraba-raba keningku yang sedikit tertutupi oleh topi rajutan.

“Coba kau dekatkan keningmu itu. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.” Perintahnya.

Akupun mengikuti perintahnya dan mendekatkan keningku ke wajahnya. Tiba-tiba. CHU~ Tanpa kuduga Kwangmin mencium keningku.

“Aissh!! Kau nakal!! Apa yang kau lakukan?” wajahku memerah seketika. Aku masih memegang keningku.

“Itu adalah ciuman persahabatan,” ucapnya polos.

“Aku tak percaya!!” aku menutupi wajahku karena malu.

“Eommaku bilang, mencium di kening adalah untuk seseorang yang kita sayang. Itu juga berari melambangkan rasa sayang dan peduli.” Ucap anak itu polos.
Aku hanya dapat dian dan tak berkutik.


Kami berdua diam seribu bahasa. Aku masih terkejut akan hal tadi. Tak ada dari kami yang memulai bicara. Suasana menjadi hening. Tiba-tiba anak laki-laki itu mencoba berbicara memecah keheningan.
“Channie, besok aku sudah tidak tinggal disini lagi.” Ucapnya dengan nada yang agak kecewa.

Sontak aku terkejut dan langsung menatapnya. “Jinca?”

“Nde, besok aku berangkat ke Amerika bersama Eomma dan Appa.” Kwangmin menundukkan kepalanya.
Aku tak menjawab ucapannya. Tiba-tiba air mataku terpecah begitu saja. Aku menutup wajahku mencoba menyembunyikan kesedihanku. Oh Tuhan. Mengapa di saat suasana natal seperti ini aku ditinggalkan oleh sahabatku yang paling kusayang? Besok adalah natal, itu adalah hari yang kutunggu-tunggu. Banyak hal yang ingin aku lakukan dengan sahabatku ini. Kini aku hanya mampu mengubur semua hal yang ingin kami lakukan besok.

“Kau tidak boleh pergi Kwangminnie.” Aku menatapnya sambil terisak.

“Aku juga tidak ingin pisah denganmu. Tapi ini adalah kemauan orang tuaku.”

Aku tak dapat menjawabnya. Aku hanya tertunduk dan menangis.

“Uljima Channie, tahun depan aku akan kembali lagi. Aku janji! Kita akan merayakan natal bersama lagi. Bermain bola salju, minum coklat hangat, bertukar kado bersama keluarga. Aku janji.” Kwangmin meyakinkanku. Kwangmin mengeluarkan sebuah sapu tangan putih yang ada di saku jaketnya. Dia menghapus air mata yang mengalir di pipiku.

“Benarkah? Kau janji?”

“Ya aku janji. Sudahlah jangan menangis. Kata Appa besok pagi kami berangkat. Kau harus ikut mengantarkan kami ya?” Kwangmin tersenyum manis.

Aku dan Kwangmin kembali menatap bintang bersama.

*******
Hari ini adalah hari dimana Kwangmin meninggalkan Seoul. Aku, Eomma, dan Appa mengantarkan keluarga Kwangmin ke bandara. Sejak di mobil aku terus memegang tangan Kwangmin. Rasanya aku tak mau pisah dengan sahabatku itu. Kamipun selalu bergandengan tangan saat berjalan di bandara.

“Nichan sayang, Kwangmin sudah mau berangkat beberapa menit lagi. Kalau kamu masih memegang tangannya erat seperti itu bagaimana Kwangmin bisa pergi?” kata Eomma lembut.

“Tapi Eomma, aku tidak mau pisah dengan Kwangmin.” Rengekku.
Kwangmin hanya tertawa melihat tingkahku.

“Channie, Masih ingat janjiku kan? Tahun depan aku akan kembali lagi. Kau jangan khawatir. Selama aku di Amerika kita bisa mengirim surat kan kan?” Kwangmin memegang pundakku.

“Ya Kwangmin. Ingat janjimu itu. Dan jangan pernah lupakan persahabatan kita.” Aku melepas tangannya dengan agak kecewa.

“Itu pasti, aku tidak akan melupakan persahabatan kita.”kata Kwangmin.

Orang tua Kwangmin dan orang tuaku berpelukan untuk perpiasahan. Air mataku berlinang lagi. Kini Kwangmin dan keluarganya berjalan ke ruang tunggu. Sambil berjalan anak laki-laki itu melambaikan tangannya ke arahku, wajah mungilnya hampir tenggelam oleh syal yang membalut lehernya. Akupun membalas lambaian tangannya disertai isak tangis.

**********

Sesampai di rumah aku duduk di depan televisi. Natal hari ini sungguh membosankan tanpa Kwangmin. Aku hanya dirumah menonton TV. Aku menatap acara televisi di depanku. Itu adalah kartun pikachu, biasanya aku dan Kwangmin menonton bersama di ruangan ini. Melihat kartun itu aku semakin rindu padanya. Akupun memutuskan untuk tidak menonton kartun itu dan beranjak ke kamar.

Sesampai di kamar aku duduk di atas kasur, kulihat pohon natal kecil yang berada di atas meja yang di dekatnya ada sebuah bola salju kaca hadiah pemberian Kwangmin tahun lalu. Kuambil bola salju kaca itu. Pandanganku mengarah keluar jendela, tirai-tirai jendela sedikit terbuka akibat angin dari luar.

**********
Bertahun-tahun setelah Kwangmin meninggalkanku. Dia lupa akan janjinya. Dia tak pernah datang mengunjungiku. Ratusan kali aku mengirimkannya surat, namun hasilnya nihil. Surat itu kembali lagi padaku karena alamat yang kuberikan tidak jelas. Dan beberapa hadiah natal yang ingin kuberikan padanya juga tak sampai pada tujuan. Entah apa kabarnya sekarang. Mungkin kini dia melupakanku.

Sampai kapanpun aku takkan melupakanmu Kwangmin. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam ternyata aku mencintaimu. Rasa sayangku padamu sebagai sahabat kini berubah menjadi rasa cinta. Selama beberapa tahun ini hidupku menjadi murung. Aku sering mengurung diri kamar sambil menatap foto-foto kita sewaktu kecil. Andaikan hal itu terulang kembali. Dan andaikan waktu itu aku tidak membiarkanmu pergi, mungkin kau masih disini bersamaku. Bercanda bersama, tertawa bersama, dan menikmati hal-hal indah bersama. Kwangmin-ah kumohon kembalilah. Aku sangat merindukanmu. Merindukan wajahmu yang dulu. Mungkin sekarang kau sudah berubah dan tinggi badanmu juga sudah bertambah. Oh tuhan! Kembalikanlah sahabatku itu.

Setiap hari aku berdoa agar  dapat bertemu dengan Kwangmin. Kini Kwangmin keberadaannya ntah dimana. Aku memohon pada Appa untuk mencari tau tempat tinggal Kwangmin dan keluarganya. Namun kata Appa tidak mudah mencari mereka. Aku patah semangat. Setiap malam natal aku sering mengunjungi tempat yang sering kami kunjungi itu, tak salah lagi adalah pohon natal itu. Aku datang dengan membawa hadiah untuknya. Selama berjam-jam aku menunggunya. Tetapi dia tak tak pernah datang ke tempat itu, tempat dimana dia berjanji akan menemuiku setelah setahun meninggalkanku. Setiap malam natal aku duduk di bangku itu dan mengenang masa kecil kami berdua.

**********

Hari ini adalah malam natal yang kesekian kalinya. Aku tak pernah patah semangat untuk menantinya disini. Walaupun malam-malam natal sebelumnya dia tak pernah datang. Tapi aku akan tetap menunggunya sampai kapanpun. Di tangaku masih memegang sebuah hadiah yang akan kuberikan padanya. Aku harap natal kali ini dia datang.
Sudah berjam-jam aku duduk di bangku ini.  Salju tebal sudah menyelimuti sweater hangatku. Lebih tepatnya kini sudah tengah malam. Aku mulai mengantuk tetapi semua itu aku coba tahan. Aku yakin dia pasti datang.
Mataku hampir terpejam, tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku. Dia menutup kedua mataku. Sontak aku mencoba melepaskan kedua tangannya itu. Namunn tenagaku tak seimbang dengan tenaganya.


“Kkau siapa? Lepaskan aku!! Byeontae!” teriakku.

“Ssstt.. jangan berisik.” Katanya, orang itu langsung melepaskanku.

Dengan sigap aku langsung berdiri dan menatap orang yang ada di belakangku. Ternyata dia adalah namja, wajahnya tampan, matanya besar, tubuhnya jangkung dan tinggi. Aku merasa bersalah tadinya kukira dia adalah orang jahat yang ingin mencelakaiku, tetapi dari penampilannya tak tampak sedikitpun penampilan orang jahat. Namja itu tersenyum manis padaku. Senyumannya itu mengingatkanku pada seseorang yang kurindukan.

“Maaf aku telah mengagetkanmu!” ucap namja bertubuh jangkung itu.

Aku menaikkan alisku. “Kau siapa?” tanyaku.

“Kau tidak mengenaliku? Kita berdua dulu sering ke tempat ini.” Kata namja itu.

Ahh siapa namja ini? Apa jangan-jangan dia orang jahat? “Mungkin kau salah orang.” Aku langsung berjalan meninggalkannya.

“Heii jamkkaman Channie..!!” tiba-tiba namja asing itu menarik tanganku sambil memanggilku Channie. Itu adalah nama pemberian Kwangmin untukku, hanya Kwangminlah yang memanggilku dengan nama itu.

“Jangan kau panggil aku dengan seperti itu! Hanya Kwangmin yang boleh memanggilku seperti itu. Kau siapa?? Cepat katakan! Atau aku akan berteriak ke orang-orang bahwa kau adalah seorang yang maniak!” bentakku.

“Channie, kau sudah melupakanku? Aku Kwangmin, Jo Kwangmin. Sahabatmu.” Namja itu membalikkan memegang pundakku.

Tubuhku bergetar seketika mendengar pengakuan darinya. Butiran bening keluar dari pelupuk mataku. Ternyata orang yang selama ini aku cari-cari dan yang kurindukan kini telah berada di hadapanku.

“Kau benar Kwangmin?” aku memegang pipinya.

“Ya. Channie.”

“Sungguh?”

“Sungguh, ini buktinya.” Kwangmin mengeluarkan kalung yang kukenali dari balik syalnya.

Aku langsung memeluknya erat dan kini air mataku sudah pecah. “Kau jahat!! Kau jahat Kwangmin! Kau tidak tau kalau selama ini aku menunggumu? Kau bilang kau akan kembali setelah satu tahun meninggalkanku. Nyatanya apa? Kau tak pernah kembali. Bahkan di tahun-tahun berikutnya kau juga tak pernah datang. Kau jahatt!!!” Tangisku sambil memukul dadanya, Kwangmin hanya terdiam merasa bersalah.

“Maafkan aku Channie, aku menghilang begitu saja. Ini salahku!! Pukul aku semaumu.” Katanya dengan nada bergetar.
Aku menangis di hadapannya.

“Uljima Channie.” Kwangmin mengusap air mataku dengan tangannya. Tangisku mulai mereda saat Kwangmin mengusap air mataku.

Dengan sangat erat aku memeluknya, rasanya aku tak ingin melepasnya lagi dan kehilangan untuk kedua kalinya.

“Katakan padaku bahwa selama ini kau kemana?” tanyaku sambil melepaskan pelukanku.

“Aku memang tinggal di Amerika. Namun saat di Amerika Eomma mengidap penyakit kanker dan harus berobat ke Jerman. Selama bertahun-tahun Eomma mengalami masa penyembuhan di Jerman. Aku tidak sempat mengirimkanmu surat. Maafkan aku Channie.” Jelasnya.

“Ya aku bisa mengerti sekarang. Kumohon sekarang jangan pernah tinggalkan aku lagi.”

“Tentu saja. Aku akan berada disisimu selamanya. Dan aku akan hidup bersamamu.”

“Maksudmu?” aku mengernyitkan alis.

“Will you marry me?” Kwangmin mengeluarkan cincin dari saku jaket hitamnya.

Aku hanya terdiam dan membelalakkan mataku.

“Ya Channie, maukah kau menikah denganku?”

“Mmm..??” aku masih tak mengerti apa yang Kwangmin katakan barusan, otakku sulit mencerna perkataanya.

“Park Nichan. Maukah kau menikah denganku, tinggal bersamaku, hidup bersamaku, dan menghabiskan sisa waktumu bersamaku selamanya?” Kwangmin menaikkan kedua tanganku dan mencium tanganku dengan lembut.

“Ya, Kwangmin.” Ucapku dengan nada bergetar.

Kwangmin memelukku erat. Pelukan hangatnya mampu mengalahkan suhu dingin yang bersalju di tempat ini. Perlahan kami melepaskan pelukan kami.

Kini aku menatap bola mata namja yang ada di depanku. Kami saling bertatapan lekat satu sama lain.
Tatapannya mengartikan sesuatu. Bola matanya seakan dapat berbicara. Perlahan-lahan Kwangmin mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan sangat dekat sampai tak ada jarak sedikitpun. Kini wajahnya sudah ada dihadapanku. Deru nafas hangatnya bisa kurasakan. Dengan lembut dia mengecup bibirku.
“Saranghae Channie.”

Natal tahun ini sangat berkesan bagiku. Selain dapat bertemu dengar seorang kucintai aku juga dapat hadiah natal yang yang tak terduga.

END~

Rabu, 23 November 2011

[FF] Love Is True ~ Chaptered-5 (ENDING)

Author :
RIZKA ANIZA


Cast ::
~Cha Young Moon
~Jo Kwangmin
~Jo Youngmin
~Cha Sunwoo aka BARO of B1A4
~Cha Siwoon aka appanya Youngmoon &Sunwoo
~Han Hyesang aka eommanya Youngmoon & Sunwoo
~Lee Jeongmin
~Lee Hyerin
~Eunji~Minyoung (pemeran baru)


Lenght :
~Chaptered

Genre ::
~Romance
~Friendship
~School life


^^Happy Reading^^
Aku segera menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Kulihat Ahjumma sedang memasak sesuatu. Kulihat Kwangmin juga membantunya. Tanpa ragu aku segera menghampiri mereka.
“Wah.. sedang masak apa nih? Harum sekali ahjumma.” Kataku sambil mencium bau masakan yang ada di dalam panci.
“Ahjumma sedang masak kimchi nih. Coba dirasain!” Ahjumma menyuruhku untuk mencicipi masakannya. Wah, ternyata enak.
“Wuaah.. enak sekali.. Ahjumma.”
“jinca?”
“Ne..”
Kulihat Kwangmin sedang duduk di meja makan. Dia hanya tersenyum-senyum melihat keakrabanku dengan ibunya.

~Chaptered-5 (ENDING)~

*******
Yeah, aku duduk di kursi penonton di lapangan basket bersama sahabatku Hyerin. Belakangan ini Hawkers yang tak lain da tak bukan adalah tim basket andalan sekolah kami SOPA (read: seoul of performing art school) minggu depan akan mengadakan pertandingan dengan sekolah Daegu music school. Diantaranya pemain tersebut Sunwoo Oppa yang sebagai Kaptennya, Lee Jeongmin oppanya Hyerin, Kwangmin yang tak lain dan tak bukan adalah namjachinguku, Youngmin kembaran dari namjachinguku, dan kelima anggota lainnya. Mereka sibuk mempersiapkan matang-matang permainan mereka saat ini. Belakangan ini Kwangmin jarang menghabiskan waktunya bersamaku. Awalnya dia sangat menyesali akan hal ini dan memutuskan untuk tidak ikut dalam pertandingan. Tapi aku menolak dan menyuruhnya agar tetap ikut dalam pertandingan. Bagaimanapun aku tetap mendukung segala kegiatannya demi kebaikan, walaupun itu mengurangi waktuku bersamanya.
Duk..dukk..dukk... terdengar suara bola yang di dribble oleh Sunwoo Oppa. Tubuhnya gesit dalam permainan bola basket. Sesekali dia menoleh ke arah tempat aku dan Hyerin duduk. Dan opps. Sunwoo oppa melakukan wink dan menunjukkan aksinya itu ke arah Hyerin. Dengan spontan Hyerin histeris terkagum-kagum melihat Oppaku.
“Kyaaaaa~” teriak Hyerin histeris tepat di telingaku. Hyerin hampir berhasil membuat gendang telingaku pecah karena suara nyaringnya itu.
“Omona! Sudah Hyerin...” Aku segera menutup telingaku dengan kedua tanganku.
“Wuaaaahhh.... Sunwoo Oppaaaaa~” teriaknya lagi. Namun kali ini teriakannya lebih dahsyat dari yang sebelumnya.
Hyerin tak mempedulikan kata-kataku, dia tetap asyik meneriaki Oppaku. Perlahan segera menjauh darinya, takutnya dia akan terus-terusan berteriak nyaring seperti itu lagi.
“Youngmoon, lihat Sunwoo Oppa. Oh em ge..!!” katanya, tangannya meraba-raba tempat yang kududuki tadi namun pandangannya tak lepas dari Sunwoo Oppa. Kulihat dia sudah menyadari kalau aku sudah tidak berada di sampingnya lagi. Dia mencari-mencari sosokku dan berhasil menemukanku yang duduk di bangku atas.
“Ha?? Apa? Kau tau tidak? Kau hampir membunuhku dengan suara nyaringmu itu.” Kataku sambil memakan snack yang ada di tanganku.

“Uh.. Jeongmal mianhe Youngmoon, aku tidak bisa menahan diriku. Oppamu sungguh mempesona. Hehee” jawab Hyerin sambil cengengesan.
“Hmmm... kau ini..!!” kataku.
“Haii Youngmoon... Haii Hyerin..!!” sapa dua orang yeoja ke arah kami dengan ramah. Dan tak kusangka dua yeoja itu adalah Eunji dan Minyoung. Ya, Minyoung adalah teman satu geng Eunji. Tapi apa tujuan mereka kemari? Apa mereka akan merusuhi kami?
“Kau?? Mau apa kau kemari??” tanyaku dengan suara lantang.
“Ahh... tunggu Youngmoon. Kali ini aku datang tidak untuk merusuhi kalian.” Jawabnya. Aku langsung kaget dengan jawabannya itu. Mungkinkah Seorang Eunji yang terkenal sadis akan merubah sikapnya menjadi lembut seperti ini? Tanda tanya besar sudah menyala-nyala di otakku.
“Maksudmu?” tanyaku dengan penuh selidik.
“Ya~ niatku kesini ingin minta maaf padamu. Aku sudah banyak melakukan kesalahan padamu. Jeongmal mianhe..!!” Eunji berlutut di kakiku dan Hyerin.
“Ah.. sudahlah. Ayo berdiri.” Ucapku.
“Youngmoon.. Hyerin.. aku juga minta maaf. Selama ini aku juga salah padamu dan Hyerin. Aku dan Eunji sudah sadar atas kelakuan kami selama ini. Yeah, walaupun hanya kami berdua yang baru menyadari sikap kami selama ini. Tapi aku dan Eunji akan berusaha untuk membujuk teman kami yang lain untuk meminta maaf pada kalian.” Jelas Minyoung. Gadis cantik itu menundukkan wajahnya dan memegang tanganku dan Hyerin.
“Ne~ aku akan memaafkan kalian. Dan kau Hyerin apa kau mau memaafkan mereka? Aku harap kau juga mau memaafkan mereka.” Kataku pada Hyerin yang masih bingung akan kejadian ini.
“Ya.. aku akan memaafkan mereka asal mereka janji untuk berhenti menggencet murid-murid lemah di sekolah ini.” Kata Hyerin dengan ekspresi yang masih ragu untuk memaafkan.
“Oh.. Syukurlah.”ucap Eunji dan Minyoung serempak. Tampak di pandanganku wajah Eunji dan Minyoung tak sedih lagi.
“Kalau boleh tau. Apa yang membuat kalian menyesali perbuatan kalian?” tanya Hyerin.
Eunji menjelaskan semua yang terjadi. Ternyata mereka hampir di keluarkan oleh pihak sekolah karena sudah banyak murid-murid lemah yang digencet oleh mereka. Mungkin hal itu sudah biasa. Tetapi kali ini beda lagi, seorang murid bernama Song Ji Ah kehilangan nyawanya karena bunuh diri, dia frustasi dan merasa tertekan oleh kelakuan Eunji dan gengnya yang menjadikannya bulan-bulanan mereka. Dia merasa bunuh diri adalah jalan terbaik baginya agar terlepas dari siksaan Eunji dan gengnya. Setelah mendengar hal itu aku dan Hyerin kaget bukan main, karena pihak sekolah tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun.
“Oh~ begitu. Baguslah kalau kalian sekarang menyesali perbuatan kalian.”ucapku.
“Jadi, apakah benar kalian akan memaafkan kami dan bisa menjadi teman baik kami?” ucap Minyoung. Yeoja cantik itu mengeluarkan aegyeonya yang membuat semua orang gemas melihatnya.
“Ya, kita bisa mulai dari sekarang. Aku harap kalian tidak pernah berbuat jahat lagi.” Kali ini Hyerin yang menjawab, wajahnya tak menunjukkan ekspresi ragu lagi. Syukurlah Hyerin sudah bisa menerima mereka. Kami berempatpun berpelukan.
“Heii.. yeoja.. yeoja..!! kalian sedang apa? Bukannya melihat aksi kami tapi malah berpelukan.” Teriak Jeongmin. Tiba-tiba Jeongmin melambaikan tangannya dan tersenyum lembut ke arah Eunji. Eunjipun membalas lambaian tangan Jeongmin dengan malu-malu.
Kami segera duduk di bangku penonton sambil memakan snack. Dengan serunya kami melihat aksi namja-namja tampan itu dengan permainan hebatnya. Sesekali Eunji meneriaki nama Jeongmin dan Minyoung meneriaki nama Youngmin. Aneh pikirku, bukannya Eunji dulu pernah bilang kalau Youngmin hanya miliknya dan tak boleh siapapun mendekati Youngmin? Tapi kenapa kali ini Eunji tidak memperhatikan Youngmin tetapi malah memperhatikan setiap gerak-gerik Jeongmin? Atau jangan-jangan.
“Eunji boleh aku menanyakan sesuatu padamu?” bisikku pada Eunji.
“Ya. Kau mau bertanya apa Youngmoon?” tanyanya disertai senyuman manisnya.
“Maaf, kalau ini menyangkut privasimu. Uhmm.. apakah kau menyukai Lee Jeongmin oppa?” tanyaku sedikit ragu. Awalnya dia sedikit ragu dan malu-malu untuk menjawab. Tetapi akhirnya dia mau menjawab pertanyaanku.
“Hmm.. kurasa tebakanmu itu benar.” Ucapnya. Bisa kulihat wajahnya bersemu merah saat mengatakan hal itu.  Yeah. Sekarang Eunji menyukai Jeongmin.
Nah, sekarang aku melihat Minyoung yang sesekali meneriaki Youngmin. Tak salah lagi pasti dia menyukai Youngmin. Sebenarnya aku ingin bertanya langsung padanya, ah.. tetapi aku segan untuk menanyakannya. Sudahlah, lagian itu urusan mereka.
Sekarang perhatianku hanya tertuju pada namjachinguku. Dia tampak berbeda dengan baju basketnya. Sesekali mata kami bertemu, tetapi dia tetap fokus dengan permainannya. Dan.. Oops.. Kwangmin melakukan lay up dan berhasil mencetak angka. Aku bersorak-sorak ria dan melompat karena senangnya. Dan ketiga yeoja yang duduk di sampingku hanya bertepuk tangan. Wajar saja, jika yang berhasil mencetak angka adalah namja yang disukainya maka mereka akan memberikan respon yang sama seperti halnya aku tadi.
Waktu latihan sudah habis, sekarang saatnya tim basket sekolah kami istirahat. Aku, Hyerin, Minyoung, dan Eunji segera turun dari kursi penonton dan menghampiri keempat namja itu (read: Sunwoo, Jeongmin, Youngmin, dan Kwangmin). Mereka terlihat kelelahan dan basah. Baju mereka dibasahi dengan keringat mereka. Hyerin, Minyoung dan Eunji menghampiri namja yang mereka sukai. Sedangkan aku tak salah lagi langsung menghampiri namjachinguku dengan membawa dua buah handuk kecil dan sebotol minuman.
“Ahh~ chagiya, kau terlihat lelah.” Kataku.
“Ya. Ayo seka keringatku ini. Kau kan yeojachinguku.” Katanya sambil menaruh tanganku yang memegang handuk ke dahinya. Dengan lembut aku menyeseka keringat yang membasahi dahi dan lehernya. Rambutnya juga basah. Dia terlihat lebih sexy kalau seperti ini. Hahaha. Hyerin, Minyoung, dan Eunji menatap aku dan Kwangmin miris. Jelas saja mereka tidak bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan terhadap Kwangmin. Sudah pasti mereka iri. Dengan insting jahilku aku memanas-manasi dan ketiga yeoja itu. Aku memperlihatkan kemesraanku dengan Kwangmin. Jelas saja Kwangmin tidak keberatan. Huhh.. dasar namja.
::YOUNGMOON POV END::

::AUTHOR POV::
Youngmoon terus memanas-manasi ketiga yeoja itu. Karena merasa kesal melihat aksi Youngmoon dan Kwangmin, Hyerin dengan nekatnya langsung menghampiri Sunwoo dan menyeka keringatnya. Terlihat kalau Sunwoo benar-benar tidak keberatan. Hal itu membuat Hyerin senang.
Dan tampak di sudut ruangan, Minyoung sedang berbincang-bincang dengan Youngmin. Mereka terlihat akrab.
Tak lain halnya dengan Eunji, dia terus melakukan trik agar bisa dekat dengan Jeongmin. Dia tahu dekat dengan Jeongmin itu susah, karena imejnya dimata Jeongmin sudah jelek.

********
Latihan selesai. Minyoung mengajak Youngmin bertemu di taman sekolah. Minyoung datang lebih dahulu dari Youngmin. Di tangannya terdapat sebuah kotak cantik berwarna biru dan berpita merah muda. Sesekali yeoja cantik itu mengatur nafasnya dan memegang dadanya agar lebih tenang. Hari ini dia akan menyatakan cintanya pada namja pujaan hatinya, Youngmin.
“Ohh.. haii Minyoung?? Mian aku telat. Tadi pelatih Kim memberikan sedikit pengarahan pada kami. Sekali lagi Jeongmal mianhe.” Ucap Youngmin sambil terengah-engah. Di gantungkannya handuk kecil di lehernya dan dia masih memakai seragam Hawkers.
“Uhmm.. Gwaenchana. Aku mengajakmu kesini hanya untuk memberimu ini.” Minyoung pun menyodorkan kotak cantik itu dengan jantung yang berdegup-degup.
“Ini?” kata Youngmin sambil meraih kotak itu dan menaikkan alisnya.
“Ya. Ayo dibuka! Aku harap kau menyukainya.” Kata Minyoung. Dadanya berdegup dengan cepat.
Youngmin langsung membuka kotak itu dengan perlahan, setelah dibukanya dia mengeluarkan sebuah boneka Winnie The Pooh dari kotak itu. Dilihatnya boneka itu memegang sebuah bentuk hati yang bertuliskan I Love U Youngmin. Youngmin semakin tak mengerti apa maksud yeoja ini.
“Maksud ini apa?”tanya Youngmin.
“Kau tak tahu? Ini bentuk pengakuan perasaanku terhadapmu.” Jawab Minyoung.
“Geurae?? Kau menyukaiku??”
“Lebih dari sekedar menyukai. Aku mencintaimu.” Jelas Minyoung. Kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa difirkirkannya.
“Tapi..” belum selesai menjawab, Minyoung memotong pembicaraan Youngmin.
“Aku yakin kau pasti tidak mencintaiku. Hmm...!!”
Youngmin masih belum bisa mencerna fikirannya, dia masih bingung akan hal ini. Fikirannya bercampur aduk.
“Minyoung, begini saja. Jika tim kita kalah kau boleh menjadi yeojachinguku. Dan jika tim kita menang maka akan jadi sebaliknya.” Jelas Youngmin. Kata-kata itu terdengar begitu aneh di telinga Minyoung.
“Uhm.. baiklah!!”
“Yeah~ terimakasih atas hadiah ini. Bagaimana kau tau kalau aku menyukai Pooh?” tanya Youngmin.
“Jelas saja aku tahu. Aku selalu memperhatikanmu.” Ucap Minyoung yang membuat Youngmin kaget.
“Yeah.. mungkin aku harus kembali ke lapangan. Bye..” kata Youngmin sambil memegang handuk yang tergantung di lehernya dan melambaikan tangan ke arah Minyoung. Minyoung hanya menghela napas lega karena sudah menyatakan perasaannya.
“Nae Youngmin-ah..”

*******
Beberapa haripun berlalu. Besok adalah hari yang di tunggu-tunggu. Tak salah lagi, besok adalah hari pertandingan sekolah SOPA & sekolah DAEGU. Tim Hawkers dan Raging sudah mempersiapkan matang-matang permainan mereka. Semua anggota tim sibuk memikirkan pertandingan besok, tetapi tidak dengan Youngmin. Namja itu berdiri di balkon kamarnya sambil merasakan dinginnya angin yang menembus kulitnya. Fikirannya hanya tertuju pada Yeoja yang beberapa hari yang lalu menyatakan perasaannya. Tangan kanannya masih memegang boneka Pooh itu. Dilihatnya boneka Pooh itu sambil tersenyum. “Yeah.. sepertinya aku sudah menemukan jawabannya.”
*******

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ruang olahraga SOPA bergemuruh saat babak pertama. Pertandingan Hawkers dan Raging mendekati saat-saat terakhir. Cheerleaders dari masing-masing tim memandu untuk bersorak dan memberikan semangat. Tetapi di lapangan, para pemain tidak memperhatikan suara apapun kecuali suara nepas mereka sendiri dan lenguhan disana sini saat mereka berhasil memblok tembakan lawan, melompat untuk melakukan rebounds dan berlari dengan cepat.
Di tengah kekacauan itu, kapten tim Hawkers yang tak lain adalah Cha Sunwoo menarik napas dalam-dalam dan menatap papan skor. Skornya adalah dua puluh enam untuk tim Hawkers dan tiga puluh empat untuk tim Raging. Bel pun berdering dengan tiba-tiba. Babak pertama telah berakhir.
Anggota Hawkers semakin luluh lantak.
Ruang ganti pun dipenuhi oleh anggota tim. Terlihat pada ekspresi mereka semua yang semakin cemas dan tertekan. Beberapa pemain duduk di kursi panjang dan menggelosor, mereka kelelahan. Semua mata melihat ke arah Kapten yang tak salah lagi adalah Cha Sunwoo, dia duduk di sebelah anggota timnya, Lee Jeongmin. Dan dua orang junior lainnya Youngmin dan Kwangmin.
Pelatih Kim melihat ke sekeliling ruangan. Dia tau apa yang dirasakan timnya saat ini. Dia percaya kalau mereka bisa mengejar ketertinggalan mereka di babak kedua. Sepuluh menit lagi babak kedua akan di mulai, semua anggota tim bersiap-siap memakai seragam Hawkers kembali.
Para anggota Hawkers tahu saat babak kedua akan dimulai. Jika, mereka ingin menang, mereka harus main habis-habisan. Dan tepat mereka menginjak lapangan, itulah yang mereka lakukan. Kwangmin berlari ke sekeliling lapangan, menggerakkan teman-temannya agar mengikuti permainan yang sudah mereka latih belakangan ini. Youngmin mengoper bola dan berlari mendekati keranjang, siap menerjang untuk mendapatkan dua angka.
Permainan semakin seru. Tim Hawkers berhasil menambah angka terus. Pelatih Kim tersenyum bangga pada anggota timnya. Di kursi penonton, Youngmoon, Hyerin, Minyoung, dan Eunji menonton aksi tim sekolah mereka dengan cemas. Detik-demi detik berlalu, tim Hawkers berhasil mengejar ketertinggalan mereka. Kwangmin melihat ke arah sekeliling ruangan lapangan, dia berharap bisa menemukan wajah yeojachingunya di antara lautan wajah penonton. Dan akhirnya dia berhasil menemukan wajah Youngmoon. Mata mereka saling bertemu. Youngmoon mengepalkan tangannya dan memberikan semangat. Bagi Kwangmin hal itu dapat menambah semangatnya, diapun kembali fokus pada pertandingan. Kwangmin melangkah ke garis depan dan dapat men shout dua tembakan dengan mudah. Semua penonton besorak dan meledak dalam kegembiraan.

Walaupun begitu, mereka harus menambah satu angka sebelum bel berdering. Beberapa menit lagi waktu pertandingan akan habis. Semua penonton yang semulanya gembira menjadi tegang dan cemas. Jeongmin melempar bola ke arah Youngmin, dan menembaknya kembali ke arah Sunwoo. Tiba-tiba Sunwoo dikelilingi pemain Raging, untungnya dia berhasil membebaskan diri dan mengoper bola ke arah Kwangmin. Kwangmin pun mengoper bola ke arah Jeongmin. Bukannya langsung men shout, Jeongmin mengoper ke arah Youngmin yang posisinya tak terjaga oleh tim Raging. Itu adalah kesempatan besar bagi Youngmin untuk mencetak satu angka. Dan Youngmin pun berhasil me lay up satu angka tepat saat bel berdering.
Dan tim Hawkers menang...!!!
Penonton berhamburan turun ke lapangan. Mereka sorak-sorak. Sang kapten tim basket, Sunwoo mengangkat tinggi-tinggi piala kebanggaan mereka dengan senang. Youngmoon, Hyerin, Minyoung, serta Eunji masih di duduk di kursi penonton dengan wajah yang gembira.

******
Kemenangan kali ini mereka rayakan di taman sekolah. Saat itu malam sangat indah, bintang-bintang bertaburan menghiasi langit yang gelap. Tak hanya murid-murid yang ikut merayakan pesta, tetapi orang tua murid juga ikut memeriahkan suasana. Tampak di kerumunan, Youngmoon dan Kwangmin sedang membuat barbekyu. Mereka terlihat mesra dan menjahili satu sama lain. Tetapi ketiga yeoja itu (read : Hyerin, Minyoung, dan Eunji) serta ketiga namja anggota Hawkers (read: Sunwoo, Youngmin, dan Jeongmin) tidak terlihat sama sekali di tengah-tengah acara pesta kemenangan. Masing-masing dari mereka berada di sudut-sudut tempat yang tak dapat diketahui oleh siapapun.
Minyoung duduk di ayunan dengan manis. Disebelahnya terdapat Youngmin yang sedang duduk di ayunan juga. Tangan Youngmin memegang boneka Pooh pemberian Minyoung. Suasana diam dan hening. Tak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan. Tiba-tiba Youngmin memulai percakapan dan memecahkan keheningan.
“Sungguh sulit di percaya, akhirnya kami menang. Ini berkat doa kalian. Aku sungguh terharu saat ini.” Ucap Youngmin. Pandangannya lurus kedepan.
“Bukan hanya doa, tetapi berkat usaha dan semangat kalian selama ini juga yang membuat kalian berhasil seperti ini. Ya, aku sangat gembira atas kemenangan tim sekolah kita. Tetapi disisi lain aku kecewa.” Gadis itu menunduk dan rambutnya mengahangi wajahnya sehingga Youngmin sulit untuk melihat wajahnya.
Youngmin segera bangkit dari duduknya di ayunan dan menaruh boneka itu di ayunan. Dia berdiri di depan Minyoung yang masih menunduk. Youngmin menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah yeoja cantik itu dengan lembut. Minyoung tersentak kaget dan langsung mengusap air matanya.
“Ya. Aku memang pernah membuat perjanjian seperti itu. Dan kau sudah tahu jawabannya.” Kata Youngmin.
“Ne, aku tahu. Tim kita sudah menang, dan itu artinya aku tidak menjadi yeojachingumu. Semua hanya harapan yang tak berguna. Harusnya dari awal aku sadar, kalau aku ini tidak pantas untuk jadi kekasihmu. Sebaiknya perasaanku terhadapmu akan kubuang jauh-jauh. Dan aku tak akan menampakkan wajahku lagi di depanmu. Anggap saja kita tidak saling kenal.” Kata Minyoung dan langsung berlari, namun Youngmin langsung menarik tangannya. Alhasil Minyoung tidak dapat berlari.
“Siapa bilang?” ucap Youngmin. Minyoung heran dengan perkataan namja yang ada di depannya.
“Maksudmu?”
Tiba-tiba Youngmin memegang kedua tangan Minyoung. Minyoung tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menatap namja berambut pirang itu.

“Aku akan mencabut semua perkataanku. Maka, jadilah yeojachinguku. Aku mohon.” Ucap Youngmin sambil menaikkan kedua tangan Minyoung yang di pengangnya dan mencium tangan Minyoung dengan lembut. Perkataan itu semakin membuat Minyoung tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya terpaku melihat namja pujaan hatinya itu.. Angin semilir menambah keromantisan suasana. Rambut pirang Youngmin sesekali terbawa angin. Begitu juga dengan Minyoung, rambut panjangnya dibiarkannya tergerai dan terhembus angin. Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. Lalu Youngmin mendekatkan posisi tubuh dan wajahnya ke arah Minyoung. Minyoungpun memejamkan matanya dan.....
CHU~

*******
Di tempat lain Hyerin dan Sunwoo sedang duduk berdekatan sambil menikmati barbekyu buatan Youngmoon dan Kwangmin, mereka terlihat lebih mesra dari biasanya.
Dan di ujung, tampak Eunji dan Jeongmin sedang berdiri berbincang-bincang. Masing-masing dari mereka memegang balon berbentuk hati. Tidak  terlihat kesedihan diantara mereka.
Kwangmin dan Youngmoon duduk di bangku taman sekolah. Di tangan Kwangmin terdapat sebuah liontin berbentuk hati. Tanpa ragu, segera dia pakaikan ke leher yeojachingunya itu. Youngmoon tampak senang.
“Chagi, terimakasih untuk semuanya.” Kata Youngmoon sambil meletakkan kepalanya di bahu Kwangmin dengan manja.
“Ada yang ingin aku katakan kepadamu.” Kwangmin membelai rambut Youngmoon.
“Mwoya?”
“Eomma dan Appa ku bilang, minggu depan adalah hari pertunangan kita.” Ucap Kwangmin santai.
“Mwo!!!” teriak Youngmoon. Dia segera bangun dari bahu Kwangmin dan menatap ke arah Kwangmin.
“Iya. Kau tidak percaya?” tanya Kwangmin.
“Ya.. aku tidak percaya. Bagaimana mungkin kita akan bertunangan, sedangkan eomma dan appa mu tidak mengetahui hubungan kita selama ini. Begitu juga dengan kedua orang tuaku.” Kata Youngmoon.
“Pokoknya minggu depan kalian harus bertunangan!” ucap seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Kwangmin. Ibu dan ayah Kwangmin tiba-tiba datang menghampiri mereka yang sedang duduk berdua.
“Ternyata ahjumma....” belum sempat melanjutkan kata-katanya, ibu Kwangmin memotong perkataan Youngmoon.
“Ya, sebenarnya ahjumma sudah mengetahui hubungan kalian sejak pertama. Ahjumma menyukaimu. Jadi, ahjumma mohon jadilah menantu ahjumma.” Ucap ibunya Kwangmin lembut.
“Tapi, apakah orang tuaku setuju akan hal ini?” tanya Youngmoon.
“Semuanya sudah kami bicarakan matang-matang.” Tiba-tiba ayah dan ibunya Youngmoon ikut datang memeriahkan suasana.
“Eomma...Appa..” ucap Youngmoon. Dia masih tak percaya akan hal ini.
“Ya.. Kwangmin adalah namja yang cocok untukmu.” Ucap ayahnya Youngmoon. Kwangmin hanya tersenyum.
Youngmoon langsung memeluk Kwangmin erat-erat, tak dipedulikannya meskipun disana ada kedua orang tuanya dan orang tua Kwangmin.
“Hemm... kau beruntung Youngmoon. Kau bertunangan lebih dulu daripada aku.” Ucap Sunwoo yang datang secara tiba-tiba bersama Hyerin, Youngmin, Minyoung, Jeongmin, dan Eunji.
Youngmoon langsung menoleh ke asal suara. Dilihatnya Oppanya menggandeng Hyerin sahabatnya dengan mesra.
“Wah.. jadi kalian sudah pacaran?” tanya Youngmoon sambil tersenyum ke arah mereka berdua. Sunwoo hanya tersenyum malu-malu.
“Heii.. Kwangmin.. selamat ya??” ucap Youngmin sambil menepuk pundak Kwangmin.
“Sudahlah Hyung. Mungkin setelah aku, kau juga akan bertunangan dengan Minyoung.”kata Kwangmin sambil melihat ke arah Youngmin dan Minyoung yang berdiri berdekatan.
“Aku sih berharap seperti itu, tetapi apa eomma dan appa mau mengijinkan? Hahaha..” ucap Youngmin sambil tertawa lepas. Eomma dan appanya juga tertawa mendengar perkataan Youngmin.

Youngmoon melihat ke arah Jeongmin dan Eunji yang ikut berbaur dengan suasana.
“Wahh... ternyata kalian juga sudah resmi pacaran? Tidak kusangka. Malam ini malam yang menakjubkan bagiku. Selamat ya?” kata Youngmoon.
“Gomawo Youngmoon. Selamat juga atas pertunanganmu dengan Kwangmin minggu depan.” Ucap keduanya.
Semua orang tampak senang pada malam itu. Malam itu adalah malam yang tak terlupakan bagi mereka.

END~

[FF] Love Is True ~ Chaptered-4

Author :
RIZKA ANIZA


Cast ::
~Cha Young Moon
~Jo Kwangmin
~Jo Youngmin
~Cha Sunwoo aka BARO of B1A4
~Cha Siwoon aka appanya Youngmoon &Sunwoo
~Han Hyesang aka eommanya Youngmoon & Sunwoo
~Lee Jeongmin
~Lee Hyerin
~Eunji


Lenght :
~Chaptered

Genre ::
~Romance
~Friendship
~School life^^Happy Reading^^
Errrghhh... aku mulai tertekan saat ini. Pasti besok di sekolah mereka langsung membicarakan hal ini. Bagaimana ini? Apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Jeongmin? Tapi aku kasihan padanya. Hubungan kami saja baru sebentar. Lebih baik aku tidur..~Chaptered-3~


********
Pagi hari.
“Youngmoon-ah.. hari ini kau pergi sendiri ya? Oppa mau pergi duluan” Kata Sunwoo Oppa sambil meneguk susunya dan terburu-buru.
“Oh.. Ne.” Jawabku singkat.
Oppa pun langsung pergi dengan tergesa-gesa. Aneh, pikirku. Ada apa dengannya? Setelah setengah jam aku siap pergi ke sekolah. Namun saat di depan gerbang rumahku aku melihat seorang namja yang tak asing bagiku. Yeah, Dia Jeongmin. Untuk apa dia ke sini?
“Oppa? Sedang apa?” tanyaku sambil menutup gerbang.
“Aku menjemputmu, hari ini kau pergi denganku ya?” jawabnya sambil menyodorkan setangkai bunga mawar dan tersenyum manis.
“Pergi denganmu? Hmm.. baiklah” jawabku akupun  meraih setangkai mawar merah itu. Menurutku namja ini romantis juga.
“Ayo sekarang naiklah ke motorku. Pegang erat-erat ya?”
“Ne”
Kami pergi sekolah bersama, huh rasanya sungguh tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi sekarang dia adalah namjachinguku. Jeongmin membawa motornya dengan sangat kencang. Sehingga aku terus memeluknya erat-erat. Sesampai di sekolah Hyerin langsung menghampiriku.
“Haii Youngmoon.. selamat ya?” Ucap Hyerin menyambutku.
“Ne..” jawabku dengan tampang datar.
“Ohya, tahu tidak. Hari ini aku pergi sekolah dengan siapa?” tanyanya.
“Ntah..” jawabku dengan ekspresi datar lagi.
“Sunwoo Oppa” jawabnya sambil tersenyum.
“Mwo..!!” seketika aku terkejut dan merubah ekspresi datarku menjadi ekspresi terkejut.
“Ya..!! sungguh menyenangkan.” Kata Hyerin sambil memainkan ujung rambutnya.
“Omona. Aneh sekali. Aku pacaran dengan Oppamu. Dan kau mulai dekat dengan oppaku. Rasanya dunia semakin sempit saja.” Ucapku sambil melipat tanganku di dada.
“Mwo.. kau pacaran dengan Jeongmin Hyung?” Seseorang mengagetkanku. Ternyata itu suara Youngmin. Ternyata Youngmin dan Kwangmin sudah ada di belakang kami dan kami tak mengetahuinya.
“Kau baru tau?” Kwangmin tiba-tiba nyeletuk.
“Hahh.. sudah.. sudah jangan bahas hal itu.” Teriakku. Mereka semua kaget dengan teriakanku tadi.
Saat pulang sekolah pun aku diantar oleh Jeongmin. Dan Sunwoo Oppa kurasa pulang dengan Hyerin.


************

Di rumah..

“Aku pulaaaaang...” teriakku. Kulihat Eomma sedang menonton tv.
“Kau sudah pulang. Ohya nanti malam kita sekeluarga mau pergi ke pesta ulang tahun pernikahan teman Appa. Dia adalah teman bisnis sekaligus sahabat Appamu sejak kecil. Jadi kau harus persiapkan matang-matang penampilanmu malam ini. Ingat! Pakai gaun ya?” Jelas Eomma panjang lebar padaku.

“Oke Eomma!” akupun langsung ke kamar mengganti baju. Dan memilih gaun yang akan aku kenakan nanti malam.
Yepp.. ini dia. Gaun warna biru kurasa cocok.

***********

Malam harinya.

Aku sudah dandan semampuku dan memakai gaun yang tadi siang aku pilih. Akupun segera keluar dari kamar. Saat aku keluar kamar. Rasanya aneh, karena Eomma, Appa, dan Sunwoo Oppa menatapku seperti itu.
“Omona! Kau cantik sekali..” seru Eomma padaku.
“Jinca?” kataku.
“Ya chagiya..” balas Eomma.
Kamipun segera pergi menuju Hotel dimana pesta itu dirayakan. Setelah sampai disana seorang Wanita seusia Eomma menghampiri kami. Dia adalah istri dari teman Appa.
“Selamat datang.. Wah.. sudah lama tidak bertemu.” Kata Wanita itu sambil menempelkan pipinya di pipi Eomma dan berjabat tangan dengan Appa. Dan Suaminya pun Juga datang menghampiri kami.
“Hey Cha Siwoon, suda lama kita tak bertemu.” Kata lelaki itu pada Appa dan menepuk-nepuk punggung Appa. Yeah, kurasa mereka sangat akrab.
“Iya, bagaimana kabar anda?” tanya Eomma.
“Baikk.. Saat ini kami baru saja pulang dari Amerika.” Jawab Wanita itu.
“Wah, sepertinya Bisnis kalian makin sukses ya?” Kata Appa.
“Ah.. tidak juga.. Oh, mereka anak kalian. Sungguh cantik dan tampan.” Kata Wanita itu sambil memegang bahuku. Sungguh Wanita ini membuatku menjadi malu.
“Kamsahamnida. Bangapseumnida” kataku sambil bungkuk 90 derajat.
“Wah.. aku ingin sekali punya anak perempuan sepertimu.” Kata Wanita itu.
“Ah,Ahjumma bisa aja. Ngomong-ngomong apa Ahjumma tidak punya anak perempuan?” tanyaku.
“Ani. Anak Ahjussi 2 laki-laki kembar. Ahjumma rasa mereka seumuran denganmu. Rasanya sungguh menyebalkan tinggal bersama 3 orang laki-laki di rumah. Tidak ada yang bisa ahjumma ajak melakukan hal bersama. Mereka sibuk dengan  kegiatan mereka masing-masing. Kadang Ahjumma sering kesepian. Bagaimana kalau kau sering bermain ke rumah kami. Wah rasanya pasti menyenangkan” Kata Wanita itu.
“Oke Ahjumma..” balasku.
“Ngomong-ngomong kau sekolah dimana?” Tanya Ahjussi itu
“Hmm.. sekarang aku dan Sunwoo Oppa sekolah di SEOUL OF PERFORMING ART.” Jawabku.
“Jinca? Anak Ahjumma juga sekolah disitu.”
“Wah.. ini kebetulan sekali.” Jawabku. Kurasa kami sangat akrab.
“Oh, maaf Youngmoon Ahjumma masih ada tamu. Lain kali kita sambung ya?”  Wanita itupun pergi. Aku hanya menatap punggungnya yang semakin lama semakin hilang dari pandanganku.
Setelah itu aku pergi mencari minuman. Sejak sore aku belum ada minum rasanya seperti dehidrasi. Aku pun segera mengambil segelas minuman di meja. Tak kusangka ada tangan yang mengambil minuman itu juga, dan tangannya menyentuh tanganku. Spontan aku pun kaget bukan kepalang. Tanpa pikir panjang aku langsung menoleh ke arah orang itu. Dan ternyata orang itu adalah Kwangmin.
“Sedang apa kau disini?” ucap kami bersamaan. Hahaa lucu juga.
“Hahahaa” Kwangmin tertawa lepas.
“Wae?” tanyaku dengan ekspresi aneh.
“Gwaenchana.” Jawabnya.
“Ngomong-ngomong kau sedang apa disini?” tanyaku sambil mengambil segelas minuman itu.
“Hmm.. ini kan pesta ulang tahun orang tua ku. Wajar kalau aku disini. Kau sedang apa?” jawabnya sambil melipat tangannya di dada.
“Ouuh.. tadi aku juga sempat berbincang-bincang dengan Eomma mu. Ternyata kalian rupanya anak kembar yang dimaksud. Tidak kusangka.”
“Yepp. Kita keluar yuk. Cari udara. Disini panas.” Ucap Kwangmin.
“Kajja” jawabku. Kamipun keluar untuk mencari udara. Suasana disini sepi, dingin, dan angin pun bertiup sepoi-sepoi. Sepertinya dari tadi aku tidak melihat Youngmin sama sekali kemana anak itu?
“ahh.. ternyata sangat dingin disini. Apa kau tidak kedinginan padahal gaunmu tidak berlengan.” Kata Kwangmin.
“Ani.” Jawabku singkat.
“Uhm.. boleh aku tanya sesuatu?”
“Ne.. wae?”
“Apa kau benar-benar mencintai Jeongmin?” Pertanyaan Kwangmin sungguh membuatku kaget. Ya ampun untuk apa anak ini menanyakan hal itu?
“Sudahlah.. tidak usah dibahas. Aku sedang malas membahas hal itu. Ohya, dimana Youngmin?” Akupun langsung mengalihkan pembicaraan agar Kwangmin tak menanyakan hal yang membuat aku muak.
“Tidak tau. Kurasa dia di dalam. Kenapa Youngmoon? kenapa kau tidak mau membahas hal itu?” tannya Kwangmin lagi padaku. Namun kali ini wajahnya mendekati wajahku dan menatapku penuh arti. Omona! Jantungku seperti mau copot saat melihat wajahnya.
“Uhmm.. ya.. ya.. akan kukatakan padamu. Tapi jauhkan dulu wajahmu itu. Aku tidak bisa bernapas.” Kataku, Kwangmin pun menjauhkan wajahku seperti semula.
“Ya.. sekarang jawab pertanyaanku tadi.” Katanya. Huh.. anak ini sungguh keras kepala.
“Sebenarnya aku tidak mencintainya!” jawabku singkat dan langsung membuang muka.
“Jinca?” Ekspresi Kwangmin berubah seketika menjadi ekspresi senang. Sebenarnya kenapa dia? Dasar aneh.
“Ne..! kenapa kau menanyakan hal itu?” tanyaku penuh selidik.
“Gwaenchana.” Jawabnya.
“Hmmm.. dasar pabo namja!” celetukku sambil menjulurkan lidahku padanya. Akupun menggosik-gosokkan telapak tanganku dan mengusapkannya di lenganku. Sungguh malam ini sangat dingin.
“Kau berbohong. Sudah tau udara disini dingin masih saja kau mengatakan kalau kau tidak kedinginan. Ini pakailah.” Kata Kwangmin sambil melepaskan jasnya dan memakaikannya di tubuhku.
“Gomawo Kwangmin-ah..” ucapku sambil tersenyum lembut.
“Youngmoon-ah. Kau masih kedinginan?”
“Ne..” Jawabku. Tiba-tiba Kwangmin langsung meraih tanganku dan mengusap-usapkan ke tangannya. Astaga! Sepertinya aku mau terbang malam ini.
“Kwangmin-ah.. kau tidak perlu melakukan ini. Jas ini juga sudah cukup kok.” Ucapku.
“Tidak apa-apa. Kalau kau sakit bagaimana?” ucap Kwangmin yang membuat wajahku memerah seperti kepiting rebus. “Ngomong-ngomong apa Jeongmin marah jika aku memperlakukanmu seperti ini?” tanyanya lagi.
“Ntah lah.” Jawabku singkat.
“Youngmoon-ah. Kau cantik sekali hari ini.” Ucapnya yang membuat aku kaget bukan main.
 Angin berhembus sangat kencang sehingga rambutku yang tergerai panjang terbang menutupi wajahku dan pandanganku. Tiba-tiba tangan Kwangmin meraih rambutku dan merapikan rambutku agar pandanganku seperti semula. Omona! Rasanya aku mau pingsan sekarang. Eh, tunggu..!! Aksi apa lagi yang ingin dia lakukan? Tiba-tiba wajahnya mendekati wajahku perlahan-lahan dan menatapku dengan tatapan penuh arti. Tetapi tatapan ini beda dengan tatapan saat dia bertanya padaku saat beberapa menit yang lalu. Tanpa terasa wajah kami sudah berjarak 1 cm. Omona !apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba sebuah kecupan manis mendarat di bibirku. Akupun membalas ciumannya itu. Kwangmin terus melumati bibirku. Setelah beberapa saat Kwangmin melepaskan bibirnya dari bibirku. Yupp.. ini adalah first kiss ku. Beruntungnya aku mendapatkan first kiss dari namja yang aku cintai. Namun wajahku memerah lagi saat Kwangmin melihatku. Tapi kali ini kurasa wajahku sudah seperti tomat rebus.
“kk..kka..kau?” ucapku terbata-bata.
“Saranghe Youngmoon-ah..” balasnya sambil mengelus rambutku.
“tta..tta.tapi..” belum sempat aku melanjutkan ucapanku Kwangmin langsung menaruh jari telunjuknya di bibirku.
“Ya, aku tau. Saat ini kau masih pacaran dengan Jeongmin. Aku tau kau pasti juga mencintaiku. Aku juga tau selama kau berpacaran dengan Jeongmin kau selalu tertekan dan merasa tak nyaman bila di dekatnya. Kau harus bertindak Youngmoon-ah. Apa kau mau terus-terusan seperti ini? Kau harus mengikuti kehendakmu. Kau mengerti kan maksudku?” katanya panjang lebar.
Aku pun mengangguk. Semua yang dibilang Kwangmin benar. “Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
“Itu terserahmu.” Jawabnya dan Kwangmin pun langsung memelukku dengan hangat.
Tiba-tiba poselku berdering, segera aku mengeluarkan ponselku dari tas lengan kecilku. Ah.. ternyata Sunwoo Oppa yang mengirim sms.

-----------------------------------
From : Sunwoo Oppa
-----------------------------------
Youngmoon-ah.. kau dimana???
----------------------------------

akupun langsung membalasnya.


----------------------------------
To : Sunwoo Oppa
----------------------------------
Aku sedang ada di luar Oppa^^
sebentar lagi aku akan masuk..
----------------------------------

SEND~

“Kwangmin-ah.. kurasa kita harus masuk. Oppa sudah meng sms ku” kataku sambil meletakkan kembali ponselku pada tas lenganku.
“Oh~ ne. Ayo kita masuk.” Kata Kwangmin sambil menggandeng tanganku.
Dan kamipun masuk ke ruangan tempat acara berlangsung. Ternyata Appa, Eomma, Oppa, Youngmin, dan kedua orang tua Kwangmin berada di dekat meja minuman. Kulihat mereka sedang asyik mengobrol.
“Kwangmin-ah.. kemana saja kau? Wah. Ternyata kau bersama Youngmoon.” Kata Youngmin.
“Ne. Tadi kami di luar mencari udara.” jawab Kwangmin.
“Oh~ pantas saja aku dan Sunwoo Hyung sulit mencari kalian.” Kata Youngmin.
“hahaha.. mianhe” ucap Kwangmin.
“Wah~ baru kenal saja kalian sudah akrab. Bagaimana jika sering bertemu.” Tiba-tiba Ibunya Kwangmin memotong pembicaran.
“Kami sudah saling kenal Eomma. Youngmoon adalah teman sekelas kami. Dia juga pernah datang kerumah kita saat Eomma dan Appa di luar negeri.” Jelas Kwangmin.
“Oh~ bagus kalau begitu.” Jawab ibu Youngmin dan Kwangmin sambil tersenyum senang.
“Youngmoon-ah.. kau bisa bermain piano kan?” tanya Kwangmin padaku.
“Ne. Wae?”
“Bagaimana kalau kita bermain piano? Untuk memeriahkan acara.” Jelas Kwangmin.
“Hmm.. tapi...” belum sempat aku melanjutkan ucapanku Kwangmin langsung memotong pembicaraanku.
“Sudahlah.. ayo ikut aku. Kajja..” ajaknya.
“Heii kalian aneh sekali ada apa dengan kalian? Kalian terlihat makin akrab.” Bisik Youngmin padaku.
“Itu bukan urusanmu Hyung..” balas Kwangmin.
“Eomma..Appa.. aku mau bermain piano dengan Youngmoon untuk memeriahkan acara.” Astaga! Tiba-tiba Kwangmin bicara seperti itu di depan kedua orang tuanya. Bagaimana jika orang tuanya menyangka kalau kami pacaran? Heehhh..
Kwangmin pun menggandeng tanganku dan membawaku ke panggung semua tamu-tamu melihat ke arah kami. Dia mempersilakanku duduk di kursi piano tersebut.
“Youngmoon-ah. Kita mau main lagu apa?” tanya Kwangmin setengah berbisik.
“Hmm.. bagaimana kalau lagu Utada Hikaru yang First Love. Eottoke?” ucapku memberikan saran padanya. Aku hanya hapal lagu ini, jadi aku hanya bisa menyarankan lagu ini. Lagian lagu ini juga cocok dan romantis.
“Ya.. itu lagu yang bagus.. kau pintar juga ternyata memilih lagu.” Kata Kwangmin sambil tersenyum lembut.
Ratusan pasang mata pun tertuju hanya pada kami berdua. Kamipun mulai memainkan tuts-tuts piano  dengan perlahan. Untung saja lagu ini sangat pelan jadi aku bisa memainkannya dengan baik. Dengan hati-hati aku memainkan tuts-tuts piano ini tanpa ada kesalahan sama sekali. Kulihat Kwangmin sedang asyik dengan tutsnya, sesekali dia menatapku dan tersenyum padaku. Sungguh, senyumannya membuat hatiku terasa tenang di tambah lagi lagu ini yang sangat romantis. “Kwangmin-ah.. nado saranghe.” Bisikku padanya. Dia hanya tersenyum dengan lembut. Tak terasa lagu yang kami mainkan sudah selesai. Semua tamu-tamu bertepuk tangan dengan riuhnya. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan malam ini.


**************
Di rumah.
Dengan lemas aku menghempaskan tubuhku di ranjangku. Sesekali aku tersenyum dan memegang bibirku. Ciuman itu masih terasa. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Kwangmin saat kami berada di luar ruangan hotel. Huhh.. apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Jeongmin? Kurasa iya.
**************
Seperti biasa aku diantar dan di jemput oleh Jeongmin saat pulang sekolah. Hubungan kami sudah seminggu. Hubungan kami selalu seperti ini. Sama seperti perasaanku waktu itu. Aku hanya bersikap seperti bukan pacarnya. Hari ini dia mangajakku jalan-jalan ke sebuah toko es krim.
“Chagi.. kau mau pesan yang rasa apa? Eh, tunggu. Pasti kau suka rasa coklat, ya kan?” Katanya padaku.
“Ne Oppa” jawabku singkat dan tersenyum nanar padanya.
Setelah memesan es krim kami melanjutkan ke taman dimana waktu itu dia menyatakan cintanya padaku. Aku juga heran kenapa dia mengajakku kesini? Tapi aku hanya menuruti permintaannya. Tiba-tiba di mengeluarkan sebuah kotak dari tas ranselnya dan menyodorkannya kepadaku.
“Oppa.. ini apa?” tanya ku.
“Ini untukmu. Ayo dibuka..!!” serunya.
“Ne.. waah.. boneka pikachu. Gomawo Oppa..” ucapku senang sambil memeluk boneka itu.
“Cheonma.” Katanya sambil mengecup keningku.
Akupun kaget kenapa dia tiba-tiba mencium keningku?
“Wae?” tanyanya.
“Gwaenchana Oppa.” Kataku.
Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya di wajahku sama seperti Kwangmin saat menciumku waktu itu. Namun aku segera memalingkan wajahku. Dengan segera dia menjauhkan wajahku dari wajahnya.
“Maafkan aku Oppa.” Kataku sambil menitikkan air mata.
“Ya, aku tahu. Aku tahu perasaanmu padaku. Sebenarnya kau tidak mencintaiku kan? Kau telah mencintai seseorang. Meskipun aku tak tau orang itu siapa. Semua itu bisa aku lihat dari cara sikapmu padaku. Terimakasih sudah mau menjadi pacarku.” Ucapnya sambil memegang pundakku.
Aku hanya tertunduk dan menangis.
“Sudahlah Youngmoon-ah” katanya sambil mengangkat wajahku yang tertunduk. “Aku tak mau melihat kau seperti ini. Setiap kau bertemu denganku pasti kau merasa tertekan. Mungkin ini yang terbaik untukmu. Meskipun aku sangat mencintaimu aku rela untuk melepasmu bersama namja lain. Pergilah.. pergilah bersama namja yang kau cintai. Aku bahagia jika kau juga bahagia. Karena cinta tak saling memiliki kan.”
“Oppa..” teriakku padanya sambil memeluk tubuhnya. “Oppa mianhe... aku memang orang paling jahat di dunia ini. Kau tak perlu memaafkanku.” Ucapku sambil terisak-isak.
“Sudahlah Youngmoon-ah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku melakukan ini untuk kebaikanmu juga. Aku tak mau melihatmu selalu tertekan.” Ucapnya sambil mengelus-elus rambutku.
“Terima kasih Oppa. Kau namja yang baik. Kau sudah mengajariku cara mencintai.” Kataku. Jeongmin langsung menyeka air mataku.
“Uhm.. ini sudah sore, sebaiknya kita pulang dan istirahat.” Katanya.
“Ne Oppa..” balasku.
“Ayo naik. Pakai helmnya.” Kata Jeongmin yang sudah berada di motornya. Akupun segera naik dan memakaikan helm itu di kepalaku.
************
Malam harinya.
Aku masih memegang boneka pikachu pemberian Jeongmin padaku. Mataku tak henti-hentinya menatap boneka itu. Rasanya aku merasa bersalah pada Jeongmin. Aku telah mengecewakannya. Apa yang harus kulakukan? Mungkin aku akan meng sms nya.

-----------------------------
To : Lee Jeongmin
-----------------------------
Annyeong~
Oppa, jangan lupa istirahat dan dan jaga kesehatan ya?^^
-----------------------------

SEND~
5 menit kemudian dia membalas sms ku.

------------------------------
From : Lee Jeongmin
------------------------------
Ne^^
------------------------------

Hah? Cuma itu jawabannya? Tidak seperti biasanya dia membalas sms ku seperti ini. Biasanya dia membalas sms panjangnya bukan main. Ah.. tidak apa lah. Mungkin aku bisa perlahan melupakannya.

**********
Di sekolah.
“Youngmoon-ah.. kau kenapa? Kenapa diam saja? Ini untukmu.” Kata Kwangmin sambil menyodorkan sebuah sparkling tropikana yang baru saja dia beli dari kantin.
“Gomawo Kwangmin-ah.” Kataku sambil mengambil minuman itu.
“Kau kenapa?”
“Aku sedang badmood. Kemarin sore kami sudah putus. Rasanya aku merasa bersalah padanya. Huuh...” jawabku.
“Oh.. bukannya itu yang kau mau? Uhm.. ya sudah mungkin kau perlu waktu untuk refreshing. Bagaimana jika nanti kita jalan jalan-jalan. Eottoke?”
“Baiklah.” Ucapku sambil meneguk minuman kaleng itu.

***********

Setelah pulang sekolah Kwangmin mengajakku ke sebuah danau. Kwangmin tau tempat yang tepat untukku saat ini. Udaranya sejuk, memandangannya indah, pohon-pohon yang hijau dan rimbun, itulah yang bisa aku gambarkan dari pemandangan disini. Wuaah.. rasanya aku bisa melepaskan semua beban di pikiranku. Kwangmin mengajakku duduk di bawah pohon yang rindang.
“Bagaimana tempatnya? Bagus kan?” Tanya Kwangmin padaku. Sesekali dia juga melempar beberapa batu kerikil ke danau itu dan membuat suara PLUNG yang menurutku itu lucu.
“Ne.. Bagus.. Gomawo Kwangmin-ah..” ucapku sambil menatapnya dan tersenyum.
“Cheonma..” balasnya sambil memegang tanganku. “Bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah sudah membaik?”
“Yupp.. itu pasti, apalagi ada kau disini. Hatiku semakin tenang rasanya. hehehe” jawabku sambil cengengesan.
“Hahahha.. kau ini bisa saja.” Katanya sambil mengelus-elus rambutku dengan lembut.
Tak kusangka tiba-tiba tubuhnya mendekat ke tubuhku. Wajahnya juga. Tatapannya sangat melekat. Kurasa dia ingin menciumku.
“Kwangmin-ah..”
“Ne..?” jawabnya. Namun pandangannya tak lepas dari wajahku.
“Kwangmin-ah..”
“Ne..?” katanya lagi. Sekarang wajahnya sudah berjarak 1 senti dari wajahku.
“nothing..” jawabku. “Kwangmin-ah..” ini sudah ketiga kalinya aku memanggilnya.
“Ne?? Wae?” katanya. Namun ekspresinya berubah sedikit, kurasa dia agak kesal. Hahaha.
“Cium aku sekarang..”

Tanpa berkomentar lagi. Kwangmin menciumku.
CHU~
“Youngmoon-ah.. Kau apa kau mau jadi yeojachinguku..?”
“Yaa~..”
“Sekarang. Apa kita sudah resmi pacaran?”
“Yaa~..”
Yupp.. Hari ini kami sudah pacaran.


***********

Di rumah Kwangmin.
Ini sudah beberapa minggu aku pacaran dengan Kwangmin, hari-hariku diwarnai olehnya. Tanpa terasa aku sudah melupakan Jeongmin. Hari ini ibunya Kwangmin mengajakku belanja. Ya, kami sering melakukan hal ini bersama-sama. Terkadang Eomma juga ikut. Tapi karena hari ini Eomma ada keperluan, jadi hanya aku yang ikut. Seperti mertua dan menantu, kami terlihat cocok satu sama lain. Hahaha. Tapi ibunya Kwangmin tidak tahu kalau aku dan Kwangmin sudah resmi pacaran. Seandainya Ibunya tau apa ya respon yang diberikan Ibunya padaku? Ah.. mungkin kami harus merahasiakannya dulu. Hmm.. kami sudah berada diluar gedung pusat perbelanjaan. Cuaca hari ini terlihat agak mendung.
“Youngmoon.. kau membawa payung? Hari ini sepertinya akan hujan.” Tanya Ahjumma padaku.
“Aniyo Ahjumma.. wah bagaimana ini?” balasku.
“Uhm.. begini saja. Ahjumma akan menelpon Kwangmin dulu agar dia menjemput kita disini.” Jelas Ahjumma.
“Ne ahjumma..”
Ahjumma pun menelpon Kwangmin. Kami menunggu di depan gedung pusat perbelanjaan itu. Setelah itu kami menunggu beberapa saat. Dan Kwangmin pun menjemput kami dengan mobilnya. Kwangmin langsung keluar dan membawa payung. Dia langsung membawa Ibunya masuk ke dalam mobil. Aku hanya menunggu giliranku masuk ke mobil. Setelah Kwangmin mambawa Ibunya masuk. Giliran Kwangmin yang membawaku masuk ke mobil.
“Gwaenchana chagiya? Apa kau tidak kedinginan?” tanyanya padaku sambil megelus-elus bahuku.
“Gwaencana. Ayo segera masuk ke mobil. Takut hujannya makin deras.” Balasku.

Tiba-tiba..
CHU~
Kwangmin mengecup keningku.
“Astaga.. Kau ini apa-apaan? Kalau Ibumu tau bagaimana?” Ekspresiku berubah seketika menjadi ekspresi aneh dan menatap Kwangmin.
“Tidak apa-apa. Eomma pasti tidak melihat. Aku yakin itu. Kajja” katanya sambil membawaku masuk ke mobil dan merangkulku.
Akupun menuruti kata-katanya dan masuk ke mobil. Ahjumma duduk di depan sedangkan Kwangmin yang menyetir. Aku hanya duduk di belakang.


**********

Sesampai di rumah Kwangmin.
“Wooah.. akhirnya sampai juga.” Ucap Kwangmin.
“Youngmin kemana?” tanya ibunya Kwangmin.
“ Dia sedang ada urusan Eomma.” Jawab Kwangmin.
Aku hanya diam dan memegang beberapa bagian bajuku yang basah. Lalu Ahjumma menyuruhku duduk di sofa, aku pun menurutinya. Sedangkan Kwangmin pergi ke kamarnya dan kurasa dia mau mengganti bajunya yang sedikit terkena air hujan. Tiba-tiba Ahjumma datang membawa secangkir teh dan menyuruhku meminumnya.
“Youngmoon-ah minum ini agar kau terasa hangat.” Perintah Ahjumma.
“Jeongmal gomawo Ahjumma” balasku sambil meneguk secangkir teh itu.
“Astaga Youngmoon-ah pakaianmu basah juga. Wah~ apa kau mau memakai pakaian Ahjumma? Sebentar ya biar Ahjumma carikan untukmu. Mana tahu ada yang pas untukmu.” Lalu Ahjumma pergi ke kamarnya untuk mencarikan pakaian untukku.
“Youngmoon-ah..” Tiba-tiba Kwangmin mengagetkanku.
“Ah~ ne?” balasku.
“Kau tak apa-apa? Wah pakaianmu basah. Untuk sementara kau pakai pakaianku saja ya?” kata Kwangmin sambil memegang beberapa bagian pakaianku yang basah.
“Gwaenchana Chagii.. ibumu sedang mencarikan pakaian untukku.” Kataku sambil tersenyum lembut padanya.
“Oh. Syukurlan. Aku takut nanti kau sakit chagiya.” ucap Kwangmin sambil mengelus rambutku.
“Haha.. sudahlah. kalau nanti Ahjumma tau kau mengelus rambutku bagaimana?” kataku sambil menarik tangannya pelan dari kepalaku.
Tiba-tiba Ahjumma datang. Untung saja aku segera melepaskan tangan Kwangmin dari kepalaku.
“Mianhe Youngmoon. Ahjumma tidak menemukan pakaian yang pas untukmu.” Kata Ahjmma dengan wajah yang kecewa.
“Eomma.. biar Youngmoon pakai bajuku saja.” Kata Kwangmin.
“Jinca? Apa pas untuk Youngmoon?” Ahjumma kelihatannya kurang yakin dengan pendapat Kwangmin.
“Ne Eomma. Ayo Youngmoon kita ke kamarku. Biar aku bisa mencocokkannya.” Kwangmin lalu menarik tanganku. Kulihat Ahjumma hanya tersenyum melihat tingkah kami.
Kamipun segera menaiki anak tangga satu-persatu. Kwangmin terus memegang tanganku saat menaiki anak tangga. Tangannya sungguh terasa hangat.
“Ayo Chagiya..” serunya sambil melangkah semakin cepat.
“Ah.. jamkkaman. Aku lelah kalau cepat-cepat naik tangga seperti ini.” Ucapku sambil menarik napas sesekali.
“Sini aku gendong.” Tak kusangka Kwangmin menggendongku.
“Astaga Kwangmiiiiin... kalau jatuh bagaimana? Ini kan di tangga.” Teriakku ketakutan.
“Tidak apa-apa. Kau bilang kau lelah, ya sudah. Aku gendong saja kau.” Katanya. Kwangmin namun dia tetap saja tidak mau menurunkanku. Tanpa terasa Kwangmin menggendongku tepat sampai di kamarnya. Namun saat di depan pintu kamarnya aku menjerit minta diturunkan.
“Chagiya.. cepat turunkan aku sekarang” kataku sambil mengayun-ayunkan kakiku.
“Tidak.. aku akan menggendongmu sampai kita masuk ke dalam.” Ucapnya. Akupun hanya mengangguk dan menuruti permintaannya. Sungguh namja yang keras kepala. Wah, sungguh aneh tingkah kami. Hahaha.
“Nah, sekarang sudah sampai. Kau harus turunkan aku sekarang.” Pintaku dengan pupy eyes.
“Ne..” katanya.
“Ayo.. cepat pilihkan bajunya untukku. Aku sudah kedinginan,”
“Baikk.. my princess..” katanya. Sekejap wajahku langsung memerah saat Kwangmin memanggilku seperti itu.
Kwangmin pun memilihkan pakaian untuk aku kenakan. Beberapa kali dia mengeluarkan baju dan mencocokkan ke tubuhku. Tetapi tak ada satu pun yang cocok. Dia pun terus mencarinya, wajahnya semakin serius dan menggemaskan. Karena sudah banyak baju yang tak cocok denganku. Akupun segera membantu mencarikannya. Awalnya Kwangmin menolak bantuanku tetapi aku tetap ingin membantunya. Akhirnya dia mengalah dan membiarkanku membantunya.
“Ahhh... ini dia..!!” teriaknya riang.
“Akhirnya dapat juga.” Celetukku.
“Ya.. untung saja.” Katanya sambil membolak-balik kaos putih yang dipegangnya. “Uhm.. kurasa ini kaos yang kubeli setahun yang lalu.” Kwangmin mencocokkan ke tubuh jangkungnya. “Wah.. kenapa sudah tidak muat??”
“Sudahlah.. aku apa kau yang memakainya?” kataku sambil merebut kaos putih itu dari tangannya.
“kau ini ada-ada saja” katanya sambil mengelus lembut rambutku. “Nah, sekarang kau ganti pakaianmu disini. Aku akan keluar.”
Kwangmin langsung keluar dari kamarnya meninggalkanku sendirian dikamarnya. Aku hanya menatap punggungnya dan lama-kelamaan bayangannya hilang dari pandanganku. Segera aku mengganti pakaian yang basah ini dengan sebuah kaos putih pemberiannya beberapa menit lalu. Yah.. walaupun kaos ini sudah kekecilan baginya tapi bagiku kaos ini agak kedodoran. Tapi lumayanlah daripada aku memakai pakaian yang basah. Setelah mengganti pakaian aku langsung keluar dari kamar Kwangmin.  Namun saat membuka pintu kamar, seseorang namja yang tak asing bagiku mengejutkanku. Ya. Tak salah lagi adalah Youngmin. Bajunya basah sangat basah kuyup. Kurasa hujan di luar masih belum berhenti sampai-sampai Youngmin juga kehujanan.
“Youngmoon.. kenapa kau ada disini?” katanya setengah terkejut.
“Tadi aku sedang bersama Ahjumma berbelanja. Namun saat hendak pulang tiba-tiba hujan sangat deras. Jadi, ahjumma menyuruhku untuk ke rumah kalian sementara. Ohya. Kau baru pulang?” jelasku.
“Ne.. sepertinya aku harus mengganti pakaianku dulu. Maaf Youngmoon.” Youngmin tersenyum ramah dan langsung masuk ke kamarnya yang terletak tepat di sebelah kamar Kwangmin.
Aku segera menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Kulihat Ahjumma sedang memasak sesuatu. Kulihat Kwangmin juga membantunya. Tanpa ragu aku segera menghampiri mereka.
“Wah.. sedang masak apa nih? Harum sekali ahjumma.” Kataku sambil mencium bau masakan yang ada di dalam panci.
“Ahjumma sedang masak kimchi nih. Coba dirasain!” Ahjumma menyuruhku untuk mencicipi masakannya. Wah, ternyata enak.
“Wuaah.. enak sekali.. Ahjumma.”
“jinca?”
“Ne..”
Kulihat Kwangmin sedang duduk di meja makan. Dia hanya tersenyum-senyum melihat keakrabanku dengan ibunya.

TBC~